Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Friday, 6 May 2016

Bishop: Kekuatan Rusia Menurun, Indonesia Salah Satu Kekuatan Dunia

Kita boleh berbangga bahkan negara terkuat terdekat kita yaitu Australia kini menganggap RI satu kekuatan baru global bersama China, Jepang, dan India. Dia menggaris bawahi ketegasan pemimpin adalah yang mempengaruhi perimbangan kekuatan global saat ini, utamanya Putin.
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, pada Kamis (15/10/2015) mengatakan bahwa kekuatan Rusia menurun. Sebaliknya, China, India, Jepang dan Indonesia menjadi kekuatan dunia atau global.
Dalam sebuah forum di Washington, Bishop mengatakan, kebangkitan ekonomi Asia disertai dengan peningkatan kepentingan strategis, kekuatan militer dan “soft power”.

“Pada saat yang sama kekuasaan di tempat lain relatif menurun,” katanya kepada forum Centre for Strategic and International Studies. Namun, Bishop menegaskan analisanya itu tidak mengacu pada Amerika Serikat (AS) yang selama ini dipandang sebagai pemimpin global.

”Beberapa kekuatan menurun, dan tidak menampilkan ketegasan Presiden Putin yang lebih baru, saya akan menempatkan Rusia dalam kategori ini,” kata Bishop, seperti dikutip Sky News.

Bishop lantas menyampaikan data pangsa ekonomi global Rusia anjlok 1,6 persen. Hal itu menjadikan kekuatan ekonomi Rusia masuk di urutan ke-15 dunia. Kondisi itu berbeda dengan tahun 1980 di mana kekuatan ekonomi Rusia yang kala itu masih Uni Soviet ada di peringkat empat dunia dengan pangsa pasar global 7,7 persen.

Menurut Bishop, pamer kekuatan militer oleh Rusia dalam krisis Ukraina tidak menunjukkan kekuatan Rusia yang sebenarnya. Sedangkan perilaku China di panggung internasional lebih bernuansa, karena berusaha menjadi pemeran yang lebih besar dalam forum global seperti PBB.
(Dikutip dari SINDONEWS.COM)
.

Tuesday, 3 May 2016

10 WNI Bebas Tanpa Uang, Filipina Bingung dan Curiga

Kepala polisi Jolo, Junpikar Sitin sulit membayangkan Abu Sayyaf membebaskan sandera tanpa menerima uang tebusan. Ini menimbulkan kecurigaan di pihaknya.
Polisi Filipina


TEMPO.CO, Manila - Sebanyak 10 dari 14 sandera yang disekap oleh kelompok separatis Filipina atau dikenal dengan Abu Sayyaf dibebaskan. Mereka adalah awak kapal tugboat Brahma 12 dan tongkang Anand.

Namun, pembebasan 10 warga Indonesia tersebut disangsikan oleh beberapa pihak bahwa itu dilakukan secara gratis tanpa uang tebusan.

Kepala polisi Jolo, Junpikar Sitin mengaku bahwa tidak mengetahui mengenai kesepakatan yang terjadi, namun sepengetahuannya, Abu Sayyaf tidak pernah melepaskan sanderanya tanpa uang tebusan.

BACA JUGA 

Geger Megawati Sebut Sandera Bebas karena Uang, Istana Membantah


Seperti yang dilansir Asiaone, Senin,2 Mei 2016, seorang sumber yang tidak ingin disebutkan namanya juga menyatakan telah terjadi transaksi 50 juta peso atau setara dengan Rp 13,1 miliar dari pihak Indonesia ke Abu Sayyaf.

Keraguan bahwa pembebasan itu tanpa syarat juga diutarakan anggota staf militer Filipina yang ikut dalam negosiasi dengan Abu Sayyaf. Dia mengatakan tidak tahu tentang pembayaran tebusan, tetapi ia menambahkan bahwa sulit membayangkan Abu Sayyaf membebaskan sandera tanpa menerima uang tebusan.

Berbagai laporan media Filipina juga mengatakan bahwa mereka meragukan pembebasan tersebut tanpa syarat uang tebusan.

Wali kota Jolo, Hussin Amin yang marah dengan pemberitaan pembayaran uang tebusan tersebut mengatakan dia menyambut baik pembebasan sandera asal Indonesia tersebut, namun juga mangaku tidak tahu menahu mengenai apakah uang tebusan telah dibayar.

"Jika pembebasan itu dilakukan dengan imbalan uang, maka mereka yang membayar telah mendukung Abu Sayyaf," kata Amin. "Uang ini akan digunakan membeli lebih banyak senjata dan digunakan sebagai dana mobilisasi oleh penjahat ini."
(Dikutip dari TEMPO.CO)

Geger Megawati Sebut Sandera Bebas karena Uang, Istana Membantah

Seperti untuk mendapatkan panggung, pernyataan Megawati tentang tebusan dalam pembebasan sandera 10 ABK WNI mengundang kehebohan, bagaimanakah reaksi Istana?



Sejumlah anak buah kapal (ABK) WNI korban sandera militan Abu Sayyaf, berjabat tangan dengan perwakilan Pemerintah saat tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 1 Mei 2016. Sepuluh orang ABK yang hampir satu bulan ditawan akhirnya dibebaskan lewat jalan negosiasi. 
Jakarta - Istana Kepresidenan membantah pernyataan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri bahwa sepuluh warga negara Indonesia yang disandera jaringan teroris Abu Sayyaf bebas karena tebusan.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung, yang juga mantan Sekretaris Jenderal PDIP, mengatakan pembebasan tersebut terjadi karena diplomasi total. "Seperti yang sudah saya jelaskan (lewat diplomasi total)," ujarnya saat dimintai tanggapan soal pernyataan Megawati, Senin, 2 Mei 2016.

Megawati menyinggung mengenai pembebasan para sandera saat menghadiri acara diskusi terkait dengan rekrutmen pegawai negeri sipil di Jakarta. Ia mengatakan para sandera itu dilepas jaringan Abu Sayyaf karena sudah ditebus. "Wong sandera itu sudah ada yang ngurusin, kok," kata Megawati.

BACA JUGA

Akhirnya Kivlan Buka Rahasia Kronologis Pembebasan Sandera


Sebelumnya, di kantor berita asing, berkembang isu bahwa bebasnya kesepuluh sandera yang ditahan sejak 26 Maret 2016 karena upaya perusahaan tempat mereka bekerja, Patria Maritime Lines. Dikutip dari Rappler Filipina, misalnya, Patria disebutkan bersedia membayar tebusan US$ 1 juta atau kurang-lebih Rp 14,3 miliar kepada jaringan Abu Sayyaf, dan uang itu dibayar pada 29 April lalu.

Pramono enggan menanggapi banyak soal pernyataan Megawati tersebut. Ketika ditanyai untuk pertama kalinya tentang pernyataan Megawati, Pramono malah sempat kebingungan dan tertunduk beberapa saat sebelum kemudian memberikan tanggapan.

Kebingungan serupa ditunjukkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan. Ia mengaku harus mengecek dulu soal alasan Megawati memberikan pernyataan tersebut. "Saya belum cek lagi. Kan, saya dari dalam Istana," tuturnya.

Dalam keterangan pers, pihak Istana mengatakan pembebasan sandera dilakukan tanpa mengeluarkan uang sama sekali. Selain itu, pembebasan tersebut dibantu berbagai pihak, baik orang maupun yayasan, dengan pemerintah Indonesia sebagai pimpinan utama.
(Dikutip dari TEMPO.CO)

Akhirnya Kivlan Buka Rahasia Kronologis Pembebasan Sandera

Banyak berita simpang siur mengenai pembebasan sandera, termasuk kecurigaan dari pemerintah Filipina dan pernyataan menghebohkan dari Megawati tentang pembayaran tebusan, akhirnya Kivlan Zen buka rahasia.
Kivlan Zen, negosiator dalam upaya pembebasan sandera 10 WNI dari Sekapan Abu Sayyaf
Jakarta - Sekitar sepuluh warga negara Indonesia dari 14 orang yang disandera oleh kelompok separatis Filipina atau yang dikenal dengan Abu Sayyaf akhirnya dibebaskan. Kesepuluh WNI itu adalah awak kapal tugboat Brahma 12 dan kapal tongkang Anand yang sebelumnya bermuatan batu bara.
Baca juga :

10 WNI Bebas Tanpa Uang, Filipina Bingung dan Curiga

Mayor Jenderal Purnawiraan Kivlan Zein, negosiator yang ikut dalam upaya pembebasan sandera, menuturkan, negosiasi pembebasan sandera menjadi mulus lantaran melibatkan Gubernur Zulu Abdsakur Toto Tan II. Toto ini keponakan pemimpin Moro National Liberation Front (MNLF), Nur Misuari.

Kivlan Buka Rahasia, Alasan Moro Terlibat Negosiasi Sandera Abu Sayyaf

Mengapa menyeret nama Nur Misuari, karena sang penculik, Al Habsyi Misa, adalah mantan supir dan pengawal saat Nur Misuari menjadi Gubernur Otonomi Muslim di Mindanao atau ARMM pada 1996-2001. "Saya sebagai wakil perusahaan meminta bantuannya membujuk sang penculik, dan berhasil membujuknya," kata Kivlan yang saat dihubungi masih di Filipina, Minggu, 1 Mei 2016.

Menurut Kivlan, kelompok Abu Sayyaf merupakan sempalan dari kelompok MNLF yang memilih berdamai dengan pemerintah Filipina. "Jadi ini murni negosiasi yang melibatkan perwakilan dari kedua negara, dan satu tokoh yang cukup disegani oleh kelompok Abu Sayyaf," ucap Kivlan Zein.

Para sandera itu sudah diserahterimakan di sebuah pantai di selatan Mindanao. Serah terima dilakukan pada pukul 12.00 waktu setempat. Kivlan sendiri mengaku sebagai pihak yang mewakili perusahaan PT Patria Maritime Lines, dan turun untuk bernegosiasi sejak 27 Maret 2016.

Kivlan mengaku terlibat karena pernah bertugas sebagai pasukan perdamaian Filipina Selatan pada 1995-1996. Saat tugas itu  Kivlan mengenal Nur Misuari dengan sangat baik. Keakraban itulah yang kemudian digunakan Kivlan melobi kelompok Abu Sayyaf agar membebaskan WNI yang disandera.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah Nur Misuari segera menghubungi Toto agar bernegosiasi dengan kelompok militan Abu Sayyaf. Negosiasi pertama dilakukan pada akhir Maret tak lama setelah sepuluh sandera itu disekap. Negosiasi itu juga melibatkan petinggi Patria Maritime dan intelijen Filipina. "Kemudian direspons badan intelijen strategis TNI dan terjadi komunikasi," kata Kivlan.

Seringnya negosiasi yang dibantu pemerintah Filipina, bekas militan MNLF dan beberapa organisasi lainnya, akhirnya pada 1 Mei, 10 sandera itu dibebaskan. "Sekarang kami mencoba negosiasi membebaskan empat sandera yang masih ditahan," kata Kivlan. Empat sandera yang masih ditahan itu awak kapal lain.
(Dikutip dari TEMPO.CO)